Thursday, 23 November 2017

Ketika Dunia Digital Membuat Candu


Awalnya internet adalah sebuah teknologi yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lain diseluruh belahan dunia tanpa ada hambatan jarak dan waktu. Namun seiring perkembangan zaman, internet tak hanya digunakan sebagai alat informasi dan komunikasi, melainkan internet telah menjadi ladang bisnis yang menguntungkan.

Selama tiga sampai empat tahun terakhir, banyak bermunculan beragam macam kisah menarik dari berkembangnya sebuah perusahaan berbasis internet yang berhasil menggeser tatanan industri lain. Perusahaan-perusahaan berbasis internet ini bukan hanya mampu memikat konsumen dengan jumlah besar dan dalam waktu singkat, Tapi juga sudah berani bersaing dengan berbagai perusahaan non-internet dalam berebut user atau pengguna terbaik, bahkan hingga berebut wilayah beriklan di billboard dan juga televisi.

Bak gelombang tsunami, para pelaku bisnis online yang berhasil ini banyak yang bercerita kisah sukses mereka, hingga kisah ini pun tentu menjadi inspirasi buat para pebisnis industri lain untuk merambah dunia digital.

Gojek contohnya, yang memikat konsumen  tentang kemudahan untuk bertransportasi dengan memakai sistem online. Tak ketinggalan pula Grab dan Uber yang memberi gairah pada sektor transportasi. Ditambah dengan maraknya aplikasi yang mempermudah traveller seperti Traveloka, Airy Rooms, Trivago dan lainnya. Dan juga makin agresifnya berbagai perusahaan e-commerce seperti Lazada, Salestock, Tokopedia, Bukalapak, Elevenia, Bhinneka, dan MatahariMall. 

Maka jangan heran, ketika sekarang kita melihat laman di Facebook, banyak sekali bermunculan grup-grup bisnis online. Disamping itu, makin banyak ebook-ebook tentang cara berbisnis online dan cara sukses menjalani profesi sebagai seorang publisher internet marketing. Dan juga kian banyak aplikasi-aplikasi dan tools yang sangat berguna bagi para praktisi bisnis online dalam dunia internet marketing.
Sebenarnya, kita melihat bahwasanya konsumen di Indonesia merupakan brand loyal, artinya mereka hanya membeli dan mengkonsumsi produk yang telah dikenal dan jarang sekali berganti merek. Ini yang membuat pengusaha baru atau merek baru sedikit kesulitan untuk berkembang. Persoalan yang lebih pelik tentunya adalah infrastruktur internet yang belum merata di negeri ini. Ada pula masalah pembayaran kartu kredit yang masih belum terintegrasi dengan baik, sehingga pembeli masih mesti bertransaksi via ATM atau melalui minimarket franchise seperti Alfamart ataupun Indomaret.
Sepertinya kita harus memahami kalimat ini “Dunia internet marketing itu menyenangkan”
Ditandai dengan pengusaha-pengusaha muda yang sukses melalui online. Ditandai dengan bermunculan startup digital di Indonesia, UKM-UKM yang makin melek internet, dan para pelajar atau mahasiswa generasi millennial yang terjun ke dunia usaha lewat jalur internet. Usaha-usaha yang dulunya hanya dilakukan secara offline, kini makin banyak yang berbentuk digital. Bahkan sekarang bisnis MLM yang dijalankan lewat internet pun kian menjamur.
Hal tersebut tentunya memberi bukti bahwa internet sudah mendarah-daging bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Masyarakat yang awalnya sekedar memanfaatkan internet sebagai sumber informasi dan komunikasi, kini juga makin banyak yang memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan yang berujung terjadinya transaksi melalui platform online.
Ketika melihat tumbuh kembangnya dunia internet marketing di Indonesia kita tentunya patut bersyukur, karena diakui ataupun tidak para pelaku ini juga turut memberi sumbangsih bagi kemajuan perekonomian bangsa.
Meskipun begitu, kita sebagai pengguna dunia digital tentu ikut terseret dalam arus internet marketing ini. Mau tidak mau, suka atau tidak suka tanpa adanya kita pun dunia digital marketing tetap jalan mulus selama ada user yang memanfaatkan peluang yang ada.
Dan sekarang muncul dua opsi,
kita hanya mau menjadi penonton, atau juga ikut menjadi pelaku?
Nah, itu semua terserah Anda.

@Harisyavin
Kebon Sirih, 23 November 2017


Tuesday, 21 November 2017

Kepanjangan Berpikir


Sebaiknya kita berpikir panjang akan seseorang

Bagaimana jadinya jika dia tidak menginginkanmu sama sekali ? Dia yang kamu cintai nyatanya tak menginginkanmu sama sekali. Rumit bukan?

Nyatanya tidak, kamu yang buat semuanya menjadi rumit.

***

“Oke begini saja, kita anggap kamu sudah mendapatkan dia. Lalu apa lagi ?” Kata perempuan di seberang saya yang berbicara dengan seorang laki-laki di sebelahnya..

“Um, ya kalian tentu menjalin suatu hubungan bukan?” Kata laki-laki tersebut

“Iya kalau itu saya juga tahu, maksudnya ketika kalian jalani apa yang terjadi?” Tanya perempuan itu

“Jalani hubungan?” Balas laki-laki

Perempuan tersebut hanya mengangguk menahan kesal

“Iya gimana yaa…Ya gitu”

Perempuat tersebut hanya menghela napas, dan meninggalkannya pergi. Tampaknya sih kesal, ya bagaimana tidak, saya pun melihatnya dari jauh ingin menyumpah serapah saja dengan laki-laki tolol tersebut.

Tapi nyatanya cinta memang membuatmu tolol beneran kan?

***

Kali ini saya pun berpikir panjang dengan kisah saya sendiri. Saking panjangnya sampai berhari-hari saya tidak beranjak dari tempat tersebut

Berpikir panjang nyatanya hanya buang-buang waktu



@Harisyavin
Kebon Sirih, 22 November 2017

Tuesday, 7 November 2017

Menghantui Ketakutan


Jam menunjukan pukul 02:13 pagi, dan saya masih dicekik dengan deadline dan pikiran yang hampir membunuh setengahnya dari tubuh saya.

Salah satunya Sarinah

Hampir satu bulan pikiran saya soal Sarinah terus menghantui. Masih ingat tahun lalu pada bulan Januari telah terjadi tragedi teror Bom Sarinah yang terkenal itu. Bahkan seminggu penuh memenuhi headline setiap media. Lalu hubungannya apa saya membahas Sarinah ?

Bukan apa-apa, hampir sebulan ini Sarinah menjadi kawasan dimana saya menikmati kota Jakarta selepas lelah dengan urusan internship di kantor. Karena Sarinah menjadi lokasi belanja dan juga ruang menikmati waktu luang kelas menengah urban, termasuk saya sendiri.

Engga salah kan saya ingin merasakan bagaimana rasa takut dan aware para korban di hari terjadinya terror ? Saya penasaran soal itu, hingga sampai titik mencari tahu dan bertanya dengan orang-orang yang berada disana saat terror.

Saya membayangkan ketika saya yang saat itu sedang memesan satu cup kopi Starbucks dan tiba-tiba ledakan terjadi di luar dan melempar tubuh saya jauh dan membentur dinding. telinga saya berdengung keras. dan leher saya hampir patah sambil memegang selembar struk tertulis Starbucks.

Atau ketika saya sedang menyeberang dari Sarinah ke arah Bawaslu melewati pos Polisi dan tiba saja ledakan terjadi disebelah menghancurkan setengah dari tubuh saya hingga mengeluarkan darah yang menetes deras di aspal.

Atau mungkin sayalah yang tertembak disaat kerumunan massa melihat korban ledakan dan tanpa sadar dibelakang mereka dua teroris sedang bersiap mengeluarkan senjata dan menembak dua orang polisi serta berikutnya menembak beruntun kearah massa.

Bagaimana jadinya jika saya berada disana saat itu?

Hingga saya menemukan sebuah cerita

Hari itu, 14 Januari 2016, Jakarta seperti bergerak amat lambat. Sepertinya khusus di hari itu, waktu tidak sebatas 24 jam. Hari itu, Jakarta seperti tidak kenal sudah. Media terus memberitakan seharian, orang-orang ramai membincangkan; hampir tidak ada yang (tidak bisa) diam.

Hari itu juga, kita seperti kembali membaca sajak W.S. Rendra : Bulan Kota Jakarta.

“Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya

Bulannya! Bulannya!
Jamur bundar kedinginan
Bocah pucat tanpa mainan

Bulanku! Bulanku!
Tidurlah, sayang di hatiku!”

Sebuah sajak yang ditulis Rendra pada tahun 1950an itu, rasa-rasanya belum berubah sama sekali. Terlebih di Jakarta pada tanggal 14 Januari 2016.

Sebaiknya saya segera menjadi taat dan mengingat kematian

kalau sempat

@Harisyavin
Sarinah, Jakarta
11/08/2017

Tuesday, 31 October 2017

Menunda Tunda


Bisa tidak sih jika kita jatuh cinta tanpa direpotkan oleh hasrat ingin memiliki atau rasa ingin bersama?

Ketidak pahaman, dan tidak akan pernah menjadi paham, lawan sepadan di arena pertempuran. Tetapi mengulur-ulur pertarungan juga bukan ide bagus. Sepanjang waktu selama kau berusaha menunda, ia muncul pada kolom notif ponselmu, pada bau keringat, pada sebotol anggur yang sudah siap teguk. Menagih janji.
Ia menunggu hari di mana kau merasa segalanya sudah cukup: keluargamu baik dan sehat dan terjamin, teman-temanmu baik dan sehat serta terjamin, dan kau pikir rekan sejawatmu sudah tidak perlu ditambah lagi. Seperti yang kau janjikan.
Kau tampaknya tak akan bisa membuat dunia jadi lebih baik: ia akan selalu seperti film horor jelek yang saking buruknya akan sayang dilewatkan apabila kau menutup mata dan telinga. Lelucon bisa menguranginya, sedikit. Pada beberapa kesempatan humor yang bikin tertawa cukup melegakan. Tetapi yang model begitu hanya seperti krim anti penuaan yang rutin kau oles sejak usia 20; hanya bisa menunda.
Kau berpikir bahwa kau tak akan meninggalkan dunia ini, kau masih ingin melihat lelaki tampan dalam dunia komik atau drama korea peluluh hati di kala hujan, ingin melihat kutu anjing di sofa, ingin menyeberang ke dermaga pantai diseberang sana. Bahwa kau mencintai sekaligus membenci dunia dengan intensitas yang sama di waktu bersamaan pula.

Jadi yang kau perlukan hanya keyakinan bahwa apa yang kau lakukan cukup. Jika hari itu tiba, penuhi janjimu: naiklah ke arena. Dan hantam.

Hantam sekuat tenagamu!

@harisyavin
Inspired : Armandio
Kebon Sirih, 31 Oktober 2017



Sunday, 1 October 2017

Tinggal Satu


“Saya membayangkan di Jakarta tanpa kamu”

Begitu kataku lewat pesan online

Sementara itu di luar hujan masih turun, saya terjebak di sebuah kedai kopi di sekitaran Kebon Sirih, Menteng.

Saya berkali-kali menenggak kopi yang sudah dingin menunggu hujan reda yang tak kunjung reda. Berkali-kali melihat jam memastikan belum terlalu malam untuk pulang. Mencemaskan hujan ini terus turun sampai pagi dan jelas akan memaksaku untuk melawan hujan sendirian, tapi kuurungkan untuk itu.

Baju saya tinggal satu


Nanti saya mau pakai apa?

@Harisyavin
Kebon Sirih, 01 Oktober 2017

Wednesday, 31 May 2017

Kecoa Yang Pantang Menyerah

Saya masih tidak mengerti betul apa pentingnya hidup bagi sebagian manusia, mungkin saja mereka terciptakan hanya untuk menyusahkan manusia lain, atau terlepas dari itu cuma pemberi bahagia manusia lainnya yang tidak akan jauh dari kata fana, karena selepas itu ya kecewa lagi.

Percuma

Bahkan saya paling tidak mengerti benar apa esensi beberapa  makhluk lain diciptakan, seperti kecoa.

Saya penganut komunitas anti kecoa

Saya bahkan rela teriak-teriak dengan frekuensi suara paling tinggi di kamar mandi hanya demi menikmati rasa ketakutan saya terhadap kecoa, apalagi kalau doi sampai mengepakkan sayapnya terbang mengitari seisi kamar mandi.

Jangan dibayangkan buruknya situasi itu

Berpuluh-puluh kata sumpah serapah terlepas keluar dari bibir saya yang penuh dosa ini demi merasakan sensasi takut serta perasaan tak nyaman saat berada dalam situasi berduaan dengan makhluk tak layak yang sejenis itu, kecoa.

Saya masih belum mengerti betul fungsi dari hidup kecoa selain hanya untuk di caci maki.

Saat saya dengan berani menghancurkan kebahagian hidup diantara salah satu kecoa tersebut dengan secara brutal, dan membunuhnya dengan perasaan yang tak bersalah. Saya dihinggapi rasa kepuasan lahir bathin. Saya rasa perbuatan ini pantas saya masukkan ke dalam indeks prestasi di sebuah surat lamaran kerja saya di kemudian hari andai ada kolom tentang “pencapaian dalam hidup”.

Saya masih tidak paham apa faedah kecoa diciptakan

Saya membayangkan jika saja di suatu tempat di rumah saya yang gelap dan kotor, kecoa-kecoa tersebut sedang bertemu satu sama lain, berkumpul, merencanakan sesuatu, dan merancang strategi untuk mengkudeta dan memboikot saya dari kehidupan bahagia yang telah saya jalani bertahun-tahun di rumah sendiri. Saya tak habis pikir bagaimana jika mereka keluar diam-diam dari lubang kloset kamar mandi dan segera merapatkan barisan dan bersatu untuk segera mengintimidasi saya sebagai sang tuan pemilik rumah itu. 
Dan jumlahnya ada beribu-ribu kecoa dengan berbagai ukuran, mulai dari yang kecil berbentuk telur dan yang ukuran besar, dan  kesemuanya telah mereka kembang biakan sejak dulu.

Saya masih tak habis pikir sebegitu tak bermanfaatnya kecoa diciptakan

Saat saya tiba-tiba terbangun saya sudah tak berbentuk utuh lagi, beribu-ribu kecoa memadati tubuh saya dan dengan perlahan mereka menghancurkan bagian per bagian tubuh saya dengan cara yang brutal seperti saya menghancurkan mereka di waktu lain. Mereka merobek-robek dada hingga sampai ulu hati saya keluar dengan cara yang biadab. Begitu juga saat mulut saya dipenuhi dengan kecoa-kecoa yang keluar masuk dan merusaknya sampai hancur tak bersisa lagi, uh mulut saya yang sering saya gunakan untuk mengucap sumpah serapah.

Hingga akhirnya saya mati tak berdaging dengan cara yang brutal dan biadab

Lalu di kemudian hari, seluruh aspek kehidupan manusia sudah diambil alih oleh bangsa kecoa.

Saya sadar jika kecoa yang bukan apa-apa selalu punya kejutan
 
Dan saat saya mati

Saya paham  benar bahwa saya yang tidak bermanfaat untuk diciptakan

Dan sebaiknya

Saya harus segera mundur dari dunia nyata yang penuh dengan kebencian dan prasangka ini, biar saya tahu bahwa hidup tak melulu soal berimajinasi tentang kebahagiaan yang tak selamanya sempurna.   

@Harisyavin
Taman Karya, 31 Mei 2017

Sunday, 14 May 2017

Orang-orang Bodoh

Mayat laki-laki itu tergeletak dalam sebuah kamar sempit di sebuah rumah

Dan di saku celananya terselip sebuah surat:

“Kau bisa saja bersikap masa bodoh. Tidak peduli dan tak perlu lagi membicarakannya. Mengabaikan sesuatu, dimana dunia bergerak lebih cepat dari proses bernapas. ngomong-ngomong bukankah cinta yang membuat tubuhmu seperti ini tak berdaya? Perkaranya jadi rumit, karena sekalipun tidak dibicarakan ia tidak akan lenyap. begitu juga patah hati, sekalipun kau mabuk bergelas-gelas bir, dan tak sadar hatimu lagi hancur berantakan. Maka setelah kembali sadar, kau masih akan tetap patah hati”

Dasar bodoh

"Rasanya saya ingin sekali memukul orang-orang bodoh yang terlalu bahagia"

Begitu kata Sabda


Taman Karya,  15 Mei 2017
Harisyavin