Posts

Siapa Gadis Itu?

Malam itu, aku menghadiri sebuah acara di sebuah hotel yang cukup besar di kota Pekanbaru. Awalnya aku ingin datang dengan seseorang yang belakangan ini terus mengusik isi kepala. Sebelumnya aku sudah mempersiapkan acara ini dengan kehadiranku bersama dia. Tetapi berkali-kali dia hanya memberiku pengharapan saja. Hingga akhirnya dia mengirimiku pesan lewat sosial media. Maaf, aku besok jadi pergi keluar dengan seorang teman Jadi enggak bisa kita pergi, Maaf ya! Aku merenung membacanya, lalu kubiarkan dia tanpa membalas pesannya. Aku  melupakannya. Alhasil, aku pergi dengan seorang teman yang kebetulan saat itu baru saja datang dari luar kota. Aku datang tepat pukul 18.23, sedikit telat karena ada masalah saat berada di perjalanan. Setelah sampai, aku disambut dengan baik untuk mengisi daftar tamu. Lalu aku memilih kursi untuk menikmati acaranya. Aku duduk disebelah seorang gadis cantik berbaju hitam dan berambut panjang. Cukup manis, hanya saja penilaianku minus k...

Tak Baik Begini

Aku pernah sekali itu berpikir untuk melakukan sesuatu hal-hal yang kecil, hal yang terasa romantis berdua bersamamu. Bersamamu saja. Bersama orang yang kucintai. Meskipun hanya angan-angan, aku belum mengerti itu untuk siapa. Alhasil, aku melupakan angan-angan yang sederhana itu. Sempat waktu itu aku pernah membelikan sesuatu untuk seseorang. Aku memberinya cokelat. Tapi tak ada sedikitpun debar-debar waktu berdua bersamanya. Semua terkesan biasa saja, aku tak mengerti. Lalu aku mencari yang lain. Selama itu aku mencari, semua sama saja. Ternyata aku belum menemukan yang pas, yang klik dengan hati. Sejauh aku mencari tak ada yang sesuai dengan isi dada. Bahkan waktu jeda yang panjang membuatku melupakan semua. Hingga akupun mulai berkutat dengan tugas kuliah yang penuh dan menyiksa. Melihat orang-orang yang menyenangkan tiap harinya. Bahkan dekat dengan seseorang yang sesuai isi kepala. Sekali itu aku pernah melakukan hal-hal kecil yang kuingini dengan seseorang, dengan orang la...

Hujan di Bulan Juni

Hujan pertama di bulan Juni ini membuat beberapa tubuh ingin sekali merebahkan diri di dekapan orang-orang  yang sangat dicintainya. Entah mengapa, aku tak merasakan itu. Tubuhku rasanya terbiasa akan hal yang tak bisa kujelaskan lagi. Aku tak lagi rindu siapa-siapa, tak butuh lagi tawamu yang begitu renyah. Aku kalut dengan penolakanmu semalam, aku rusuh dengan kata maafmu yang membuatku lumpuh. aku  terenyuh dengan semua yang kudengar. Lalu aku patah, dan sisa hariku rusak karenamu. Meskipun kau hanya menolak ajakan kecilku, aku yakin itu adalah awal aku akan ditolak berkali-kali. Aku mengerti dengan sikapmu yang tak acuh, yang kadang menghindari tatap mata yang tiba-tiba bertemu. Aku juga tak menghindari untuk menyalahkan diri, aku salah. Seenaknya mengajakmu tiba-tiba tanpa ada pendekatan pasti. Kadang aku tak mengerti padamu, sejak awal kau tampak seperti memberi sesuatu padaku, sesuatu rasa, lalu kau coba memberiku pengharapan. Saat itu aku hanya mencoba menjaga diri...

Saling Percaya

Ada yang merenung lalu meninggalkan, ada yang meninggalkan lalu merenung. Banyak hal tidak kita sadari yang kita lewatkan begitu saja dan kita lalui dengan angkuhnya tiba saja menjadi sangat penting dalam hidup. Meninggalkan dan menanggalkan masalalu sudah menjadi cerita yang sangat sering kita dengar, bahkan sangat tidak mungkin cerita itu sudah lekat dalam cerita kita, cerita kita sendiri. Kecewa yang berlebihan setelah meninggalkan seseorang yang benar-benar memahami kita, lalu mencari orang lain dan hati lain untuk menggantikan hati yang sudah kita hancurkan. Beralasan hanya karena tak kuat menjalani hubungan jarak jauh yang beranggapan bahwa “ kalau sudah begini, saya sangat sulit percaya padanya ”. Jika benar-benar cinta, mengapa tak saling percaya? Apa mesti menjadi pribadi yang egois hanya untuk berkata bahwa “ aku tak kuat menjalani apa-apa yang sudah kami sepakati sejak awal, dia mencintaiku, aku juga mencintainya. Tetapi aku tak kuat menjalani hubungan yang s...

Seharusnya

Seharusnya aku lebih tahu kalau masalalu itu kadang menyakitkan, tidak hanya sekedar tahu tapi harus lebih tahu. Karena kadang secara tak sadar aku selalu melihat kembali ke masalalu kekasihku. Masalalu indah tentangnya dengan kekasih terdahulunya. Yang terlihat kalau kekasih terdahulu lebih indah dari apa yang dia punya sekarang. Bukan maksud hati untuk meributkan nya, hanya saja hati nurani selalu menuntunku kesana. Kadang terlihat bodoh ketika mengumpat dalam hati hanya karena hal yang seperti itu. Tapi apa mau dikata, aku tak bisa menghindarinya. Barangkali memang harus seperti ini cara kita mencintai orang yang sudah pernah di cintai. Luka pun sering datang tiba-tiba. Barangkali untuk beberapa alasan, aku hanya ingin menerima dia sepenuhnya. Juga sepenuh masalalu nya. 

Bukan Tidak Butuh

Bukan tidak butuh pasangan. Hanya saja sedang senang menikmati kesendirian. Siapa sih di dunia ini yang tidak butuh teman berbagi. Hanya saja tidak semudah itu menemukan orang yang diinginkan hati. Tidak semudah itu mendapatkan seseorang yang sesuai dengan apa yang dicari. Harus diingat punya pasangan bukan sekedar karena  takut dibilang sendirian. Lebih dari itu, punya pasangan adalah menemukan orang yang bisa mengimbangi. Kalau ngobrol terasa lebih nyaman. Kalau punya masalah bisa menjadi teman diskusi. Atau pun bisa melakukan hal-hal sesuai kesepakatan. Untuk menemukan orang seperti itu kan tidak mudah. Bukan mencari yang sempurna. Karena memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Hanya mencari yang bisa saling mengimbangi. Sebab sudah tidak mau lagi memiliki pasangan hanya pasangan berdebat hal tak penting. Pasangan yang saling bersikeras ego. Sudah saatnya memikirkan pasangan dewasa. Memiliki pasangan yang sudah memikirkan masa depan sewajarnya. Bukan hanya menikmati ...

Diam-Diam Jatuh

Malam ini, angin dengan tenang berhembus. Tak ada tanda-tanda hujan akan turun meramaikan malam dan mengaburkan suara obrolan-obrolan damai sepasang manusia yang rumit. Tapi lupakan itu, aku tak akan membahasnya, karena dua malam belakangan ini, hujan terus turun. Seolah-olah jatuh tanpa tahu ada seseorang yang sedang membutuhkan teman ngobrol yang selalu memandang jauh dari balik jendela kamar dengan perasaan sepi, sungguh malang malam itu. Dia yang seolah ceria, membuat sekeliling tertawa dengan lelucon anehnya, bahkan ada yang tertawa keras lalu mengumpat kecil karena tak sanggup melihat kelakuannya. Tapi kini, dia sangat membutuhkan teman obrolan yang serius. Mencari jati diri dalam obrolan, bertukar pikiran dan mengubah cara pandang yang sudah lama tak dilakukannya. Semenjak memilih untuk memutuskan ikatan pada seseorang yang dicintai, dia selalu menjadi orang yang pemilih, melihat semua secara hati-hati, bahkan terlihat rumit untuk memakai hati. Tapi terkadang, dia begitu mud...