Sisi Lain Stadion Utama Riau
Beberapa waktu yang lalu saya sempat memposting tulisan tentang ikon kota dari segi situasional yang sedang terjadi saat ini yaitu kabut asap, tapi ternyata tak begitu mengena di hati para pembaca di luar kota Pekanbaru. Mungkin mereka akan mengerti jika datang ke kota ini disaat ikon tersebut sedang memenuhi sudut kota ini. Karena itu saya merasa gagal dan juga memaklumi tulisan saya yang tak memiliki studi planologi, sosiologi dan historis suatu ikon kota. Sehingga untuk tulisan ruang publik kali ini saya mencoba untuk lebih mengikuti alur yang sudah ditentukan. Stadion adalah monumen untuk semua ayah yang sudah mati. Ia adalah monumen untuk para orang biasa. Demikian sepenggal puisi seorang Belanda bernama Henk Spaan. Pada awalnya, stadion memang dibangun sebagai tempat yang sakral bagi tim sepakbola. Tapi stadion juga jadi tempat seorang ayah tertawa dan menangis, sembari memperkenalkan dunia sepakbola kepada anaknya. Begitulah mungkin maksud beberapa penggalan puisi Hank Sp...