Posts

Percakapan Hancur

Malam itu di sebuah kursi panjang dibawah lampu kota “Apa rasanya tak diinginkan lagi?” “Tidak tahu. Aku belum pernah mengalaminya.” “Apa rasanya terjebak di hubungan yang salah dan jalan di tempat?” “Maaf. Aku juga belum pernah mengalaminya.” “Apa rasanya ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya?” “Em, Itu luar biasa!” “Apa rasanya melihat orang yang kau cinta lebih memilih orang lain?’ “Dan itu sangat luar biasa!” “Apa rasanya melihat mantan pacarmu memasang foto mesra dengan orang lain?” “Itu keren. Em, pertanyaanmu enggak ada yang lain?!” “Apa rasanya membohongi hati sendiri?” “!@#$%^&&**!!!” “Apa rasanya tak diingini lagi, ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya, kemudian dia memilih orang lain, menikah dan mesra, dan sampai saat ini masih memasang foto berdua?” “Begini saja. Ganti semua jawabanku sebelum ini dengan satu kata: Hancur.” *** @Harisyavin Ide : Faizal Iskandar

Cerita Yang Sebaiknya Berguna

Ponselku bergetar, kulihat pesan masuk. “ Nama dia lagi ” batinku Kuabaikan saja *** Oh iya, akhir tahun lalu aku sedang dekat dengan seorang perempuan. Teman yang tak pernah kusadari cantiknya itu. Dia cantik, sangat cantik.  Tak peduli pentingnya dia bagaimana. Aku hanya tahu, dia cantik. Dia manis, kupikir aku betah berlama-lama dengannya.  Aku suka cara di malu, dia memegang lenganku. Aku suka cara dia lelah, dia meletakkan kepalanya di pundakku. Aku juga suka cara dia khawatir, dia memegang tanganku Dan lagi, aku lebih suka dengan cara dia ketakutan, dia memelukku, erat! Nyaman ? ya aku nyaman. Senang? tentu saja aku senang, sangat senang. Tak berhenti aku bertingkah bodoh di perjalanan pulang dari rumahnya, berteriak, bernyanyi, dan tertawa sangat bahagia. “ah, kupikir aku sudah menemukan apa yang sudah kucari” Sejak itu aku menetapkan waktu untuk dia, untuk menetap...

Sadar Tak Pernah Sadar

Di sepertiga malam aku terbangun Aku keluar, mencari kedai teh yang masih buka. Menyesap beberapa batang rokok yang ku punya. Aku duduk tenang merenungi banyak hal. Hari berikutnya aku tersadar di sepertiga malam Keluar, lalu mendatangi kedai teh yang kuingat semalam Duduk tenang melamun di kursi kosong Esoknya aku terlalu cepat, aku sadar di pertengahan malam Keluar dan memilih kedai kopi Tersadar tak melamun dan terdiam Hari-hari membosankan memenuhi hidup Tanpa rekan, tanpa teman, tanpa kekasih. Kesepian ada arti, perasaan terus menyiksa Pilihan terus diusik intuisi Aku bahagia,   Sebab Aku sadar, aku tak pernah sadar @Harisyavin

Senja Dan Malam Yang Panjang

Image
Aku melempar batu ke arah jauh laut lepas sana, suara teriakan anak-anak bermain di tepi pantai mewarnai suasana sore itu. Aku menerawang sejenak, sudah hampir dua jam aku duduk di atas batu tepi pantai kota ini. Kota Kendal *** Sudah lumayan lama aku tidak mengunjungi kota ini, kota dimana ayahku dilahirkan. Kota yang berada di pinggir pantai utara pulau Jawa, yang berbatasan langsung dari ibukota Provinsi Jawa Tengah itu.  Cuaca malam itu sangat sejuk, dan aku sedang berjalan menyusuri trotoar bersama seseorang. “Kota ini banyak berubah kan?” Aku terkejut, dia yang sedari tadi tak banyak bicara kini mulai bersuara. “Ah, iya iya. Aku sedikit pangling dengan perubahan kota ini” Jelas saja aku pangling, sudah hampir delapan tahun aku tak mengunjungi kota ini. Juga bertemu dia, yang makin cantik saja. Rambutnya yang terurai panjang dan harum tubuhnya yang membuatku betah berlama-lama di dekatnya. “Apa yang mau kamu tawarkan dari kota ini sekarang?” tanyaku ...

Seorang Prajurit

Saya pernah punya mimpi tentang kamu, saya pernah punya cita-cita tentang itu Saya mencintai kamu, kamu mencintai saya. Dan hidup kita bahagia, saling memiliki, kemudian saling setia selama-lamanya. Kamu cantik, semua orang juga tahu itu. Kamu pintar, kamu sangat menyenangkan. Dan bersama kamu segalanya berjalan semakin seru dan indah. Saya ingin selalu membuat kamu tertawa bersamaku. Dan kedepannya, saya ingin membuat kamu bahagia. Mengharapkan kamu, artinya saya bersaing dengan banyak lelaki di luar sana. Dan saya siap dengan segala resikonya. Kamu dengan segala luar biasamu, dan saya dengan semua biasa-biasanya. Orang-orang bilang mimpi saya keterlaluan. Semuanya bilang saya pungguk merindukan bulan. Sampai akhirnya, satu-persatu rintangan datang. Menghantam dari kanan, kiri, depan dan belakang. Saya yang awalnya tegar pun terpaksa menyudahi mimpi saya dan menyerah. Saya pernah mendengar kalimat ini “Ada hal-hal yang memang tak bisa dipaksakan” mu...

Untuk Perempuan

Untuk perempuan Memangnya kenapa jika memulai duluan ? Takut disangka murahan ? Harusnya kami saja yang kamu sebut murahan jika semurah itu melabeli seorang perempuan murahan . Memangnya kenapa jika menunjukan suka lewat perhatian ? Takut disangka gampang ? Pemikiran ‘takut disangka gampang’ mu itu yang justru semakin mempersulit keadaan. Kami sudah kehabisan waktu. Kami, yang mulai beranjak dewasa – karena diharapkan dan dibutuhkan untuk dewasa di depan perempuan yang kami sukai – mulai muak dengan semua ini. Kami lelah ketika kamu menuhankan gengsi. Pembenaran-pembenaran seperti “ supaya enggak terkesan gampang ”, “ supaya enggak dianggap murah ”, “ supaya buat penasaran ” itu semakin kesini sepertinya semakin terasa dipaksakan dan dijadikan ‘makanan’ bagi momok menakutkan bernama gengsi . Mungkin untuk awal-awal kenal dan awal dekat, semuanya masih bisa dimaklumi. Semuanya masih indah, dan masih menimbulkan rasa-rasa kasmaran. Ketika waktunya sudah cukup lama un...